Dinas Perikanan dan Peternakan

Bioteknologi merupakan penggunaan sistem biologi atau organisme hidup dalam proses produksi. Bioteknologi memiliki cakupan manfaat yang luas bagi dunia perikanan. Dalam budidaya ikan manfaat tersebut diantaranya, meningkatkan tingkat pertumbuhan ikan, meningkatkan nilai gizi pada pakan ikan,meningkatkan kesehatan ikan, membantu memperbaiki dan melindungi lingkungan, memperluas cakupan jenis ikan, meningkatkan pengelolaan dan konservasi ketersediaan benih di alam. Peran bioteknologi akan terus meningkat seiring dengan pesatnya perkembangan zaman. Bioteknologi akan menjadi bagian dari industri masa depan yang memiliki prospek yang cerah. Bioteknologi merupakan tool yang terbukti mampu melipatgandakan produksi pangan secara efektif dengan target terukur serta mampu menciptakan produk yang memiliki daya saing tinggi

Menurut Sumartadinata (1988), batasan bioteknologi bidang aquakultur memiliki cakupan yang luas, salah satu yang umum digunakan adalah suatu kegiatan menerapkan prinsip-prinsip ilmiah dan rekayasa dalam mengolah bahan dari unsur hayati untuk penyediaan barang dan jasa. Dalam bidang budidaya ikan, khususnya dalam pembenihan, prinsip biologi adalah sebagai sarana upaya untuk penyediaan induk dan benih ikan yang berkualitas. Ketersediaan benih merupakan unsur mutlak dalam budidaya ikan. Untuk memenuhi kebutuhan pasar induk dan benih ikan tidak cukup hanya mengandalkan dari alam. Namun demikian dalam budidaya ikan tidak hanya penyediaan induk dan benih yang cukup, diperlukan mutu yang baik dan sesuai dengan permintaan pasar.

Dukungan teknologi pengembangbiakan secara buatan yang memanfaatkan prinsip-prinsip bioteknologi sangat diperlukan dewasa ini. Peran bioteknologi dimulai dari pembenihan meliputi pematangan gonad, pemijahan/pembuahan, dan pasca penetasan untuk menghasilkan benih.  Peranan bioteknologi dalam bidang budidaya ikan mempunyai cakupan yang lebih luas diantaranya adalah rekayasa lingkungan, rekayasa genetika, penanggulangan penyakit, dan manajemen pakan.

Pemanfaatan bioteknologi dalam upaya meningkatkan produksi sektor perikanan salah satunya adalah dengan sistem bioflok. Bioflok adalah teknik pengolahan limbah cair untuk makroagregat yang dihasilkan dalam lumpur aktif. Bioflok merupakan agregat diatom, makroalga, pelet sisa, bakteri, protista dan invertebrata juga mengandung bakteri, fungi, protozoa dan lain-lain yang berdiameter 0,1-2 mm. Bahan-bahan organik tersebut merupakan pakan alami ikan yang mengandung nutrisi cukup baik dan dapat menjadi makanan tambahan yang dapat meningkatkan produksi sektor perikanan dan menurunkan jumlah pakan yang diberikan. Pembuatan bioflok dilakukan dengan menggunakan bakteri Bacillus sp, yang merupakan jenis bakteri gram positif, berbentuk batang, dapat tumbuh pada kondisi aerob dan anaerob. Kelebihan bakteri Basillus sp adalah memiliki kemampuan dalam menghasilkan antibiotik yang berperan dalam nitrifikasi dan denitrifikasi, pengikat nitrogen, pengoksidasi seleniun (Se), pengoksidasi dan pereduksi mangan (Mn), bersifat khemilitotrop, aerob dan fakultatif anaerob, dapat melarutkan karbonat, dapat melarutkan fosfat, dan menurunkan PH substrat akibat asam organik kompleks baik berupa senyawa polisakarida, protein maupun selulosa. Sistem bioflok ini dinilai efektif dan mampu mendongkrak produktifitas karena dalam kolam yang sempit dapat di produksi ikan yang lebih banyak, biaya produksi berkurang dan waktu yang relatif singkat dibandingkan dengan budidaya secara konvensional.

 Picture1

Budidaya Ikan dengan menggunakan sistem Bioflock

 

Selain bioflok, peranan bioteknologi dalam budidaya perikanan adalah dalam upaya manajemen pakan. Permasalahan utama usaha perikanan saat ini adalah tingginya harga pakan buatan. Beberapa peneliti di Indonesia telah melakukan penelitian tentang pemanfaatan tumbuhan air sebagai pengganti pakan buatan. Salah satu penelitian yang dilakukan adalah tentang pemanfaatan Lemna (Lemna perpusilla Torr.) pada budidaya perikanan sistem aliran tertutup yang dilakukan oleh peneliti pada Pusat Penelitian Limnologi- LIPI pada tahun 2013. Lemna merupakan tumbuhan akuatik kecil yang hidup mengapung di permukaan air, memiliki kandungan protein yang tinggi serta memiliki kemampuan menyerap unsur hara dari dalam perairan. Pada penelitian ini yang digunakan adalah kolam ikan lele berukuran 4 x 1 x 1,2 m3, fase pembesaran dengan beban kepadatan 50 ekor/kolam (ukuran rata-rata 70 g/ekor) dan pakan pelet sebanyak 140 g/kolam/hari. Hasil penelitian disimpulkan bahwa tumbuhan air Lemna dapat tumbuh dalam sistem budidaya perikanan aliran tertutup memanfaatkan limbah dari sisa pakan dan metabolisme ikan sebagai sumber unsur haranya. Tingkat produktivitas biomas Lemna dalam sistem aliran tertutup ini cukup tinggi, yaitu mencapai 13-23 ton berat kering/ha/tahun, dengan kandungan protein 14-28 %, sehingga memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan sebagai sumber pakan alternatif.

 Picture2_2

Budidaya Lemna (Lemna perpusilla Torr.)

 

Penggantian sekian banyak bagian pakan komersial dalam budidaya ikan merupakan peluang yang sangat besar dalam menekan biaya opersional penyediaan pakan. Apabila  fakta penggunaan Lemna sebagai pakan ikan mampu menekan biaya operasional dan meningkatkan produktivitas budidaya, maka kontinuitas ketersediaan Lemna sebagai pakan alternatif merupakan salah satu aspek yang penting. Dengan demikian budidaya Lemna merupakan suatu jawaban untuk penyediaan pakan yang kontinue, dilihat dari aspek reproduksi Lemna juga memiliki kecepatan tumbuh yang sangat cepat. Beberapa sumber ilmiah menyatakan bahwa Lemna mampu menggandakan massanya dalam waktu 16 jam – 2 hari dalam kondisi lingkungan yang baik seperti ketersediaan nutrisi, sinar matahari dan suhu yang optimum.

Namun demikian, beragam kontroversi menyelimuti produk-produk hasil rekayasa genetika, kekhawatiran tentang produk rekayasa genetik yang mempunyai kemungkinan berbentuk racun, menyebabkan alergi dan berlangsung resistensi pada bakteri serta antibiotik senantiasa berlangsung di masyarakat. Memang demikian, apapun hasil rekaysa genetika dan hasil buatan manusia, apabila tidak disimpan dengan layak serta tidak dilakukan upaya penanganan yang ketat akan menimbulkan resiko. Namun hal ini tidak menyurutkan beberapa saintis untuk terus melakukan perbaikan mutu penelitian dibidang rekayasa genetika guna kemaslahatan umat manusia.

Berkaitan dengan agenda terpenting Kabupaten Bogor, yaitu menjadikan Kabupaten Bogor sebagai Kabupaten termaju di Indonesia pada tahun 2018, dimana salah satu indikator menjadi kabupaten termaju adalah penyedia benih ikan hias dan ikan konsumsi air tawar terbanyak di Indonesia, maka penerapan bioteknologi tepat guna sangat bermanfaat guna mempercepat pencapaian target penyedia benih ikan sesuai indikator kinerja yang telah ditetapkan. Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor menargetkan capaian produksi benih ikan dari tahun 2014-2018 sekitar 15-20% per tahun. Hingga tahun 2015 pencapaian benih ikan konsumsi sebanyak 3.107.748,10 RE.

Daerah yang memiliki potensi tinggi produksi benih ikan di Kabupaten Bogor adalah Ciseeng, Parung, Ciampea, Gunung Sindur, Pamijahan, Cibungbulang, Rancabungur dan Megamendung. Jenis ikan yang populer di kawasan Bogor dan sekitarnya adalah Lele, Nila, Mas, Bawal dan Gurame. Setiap tahunnya produksi benih maupun ikan siap konsumsi terus meningkat. Guna memenuhi kebutuhan pasar sekitar wilayah Bogor khususnya dan Jabotabek pada umumnya.

Dengan uraian di atas, prospek pengembangan bioteknologi di Indonesia khususnya di Kabupaten Bogor semakin jelas. Penerapan bioteknologi dalam bidang perikanan sangat luas, mulai dari  rekayasa media budidaya hingga pascapanen hasil perikanan. Pemanfaatan mikroba telah terbukti mampu mempertahankan kualitas media budidaya sehingga aman digunakan sebagai media budidaya ikan. Bioteknologi telah menciptakan ikan berkarakter genetis khas yang dihasilkan melalui rekayasa gen, sehingga ikan yang dihasilkan lebih cepat tumbuh, warnanya menarik, dagingnya tebal, tahan penyakit, dan lain sebagainya.

Bioteknologi juga mampu menjawab isu global tentang ketahanan pangan yang sedang ramai dibicarakan. Langkah pemerintah untuk mewujudkan ketahanan pangan sudah mulai terlihat, salah satu komitmennya adalah meningkatkan produksi ikan menjadi tiga kali lipat dari periode sebelumnya. Sehingga pemenuhan kebutuhan masyarakat akan ketersediaan pangan produk hewani dapat terpenuhi. Dengan demikian kekhawatiran akan kelangkaan pangan tidak perlu dialami Indonesia.

 

Sumber:

  1. Buku Data Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor, Tahun 2015
  2. Chrismadha, T, dkk.  2013. Pemanfaatan Lemna (Lemna Perpusilla Torr.) Pada Budidaya Perikanan Sistem Aliran Tertutup: Produktivitas, Nutrisi dan Kinerja Fitoremediasi. LIPI. Vol 39, No 2, Agustus 2013: 199-208.
  3. Sumantadinata, K. 1988. Aplikasi Bioteknologi dalam Pembenihan Ikan. Buletin Perikanan. Vol. IV (1) : 28-41.

 

Kontributor: Elis Masrifah, S.Pi, MP

Analis Pasar Hasil Perikanan Ahli Pertama

Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor



2017 © Dinas Perikanan dan Peternakan